Krakatau Steel Jadi Holding BUMN Tambang Masih Dikaji

Ilustrasi Krakatau Steel.
Ilustrasi Krakatau Steel.

Jakarta, K24News Indonesia — Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan penggabungan PT Krakatau Steel Tbk di holdingpertambangan tak direalisasikan tahun ini. Sejauh ini, pemerintah masih melakukan kajian terkait rencana tersebut.

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan belum ada target pasti kapan emiten berkode KRAS menjadi anggota holding. Menurutnya, proses penentuan masih panjang.

“Masih dikaji, belum belum. Belum ada (target realisasi),” ucap Fajar, Selasa (23/4).

Dihubungi terpisah, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan pihaknya masih fokus pada restrukturisasi utang. Pihaknya belum bisa bicara banyak terkait rencana pemerintah memasukkan perusahaan ke holding tambang.

Lihat juga: Sandiaga Uno Pakai Istilah Emak-emak, Warganet Protes

“Saya masih fokus restrukturisasi utang. Kalau sudah waktunya akan saya sampaikan mengenai hal tersebut,” ujar Silmy kepada CNNIndonesia.com.

Sebelumnya, Silmy mengatakan perusahaan akan merestrukturisasi utang sekitar US$2 miliar. Beberapa skema yang dikaji oleh perusahaan, antara lain perpanjangan utang, negosiasi bunga utang, dan utang ditukar dengan saham perusahaan (debt to equity swap).

“Kami juga sudah kerja sama dengan konsultasi internasional McKinsey & Company,” imbuh Silmy.

Namun, ia tak menjelaskan lebih lanjut skema yang akan diambil oleh perusahaan dalam merestrukturisasi utangnya. Perusahaan menargetkan prosesnya bisa rampung tahun ini.

Dalam laporan keuangan perusahaan per September 2018, total liabilitas emiten berkode KRAS sepanjang kuartal III 2018 sebesar US$2,35 miliar. Angka itu naik dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,26 miliar. 

Total liabilitas kuartal III 2018 ini terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar US$1,39 miliar dan liabilitas panjang US$960,99 juta. Sementara itu, pada kuartal III 2017 total liabilitas pendek hanya US$1,36 miliar dan liabilitas jangka pendek US$899,67 juta. 

Perusahaan beserta entitasnya memiliki utang dari berbagai perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Beberapa bank tersebut, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero). 

Sementara, holding tambang sudah terbentuk sejak 2017 lalu. PT Inalum (Persero) menjadi induk yang menaungi sejumlah perusahaan tambang, seperti PT Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Bukit Asam Tbk.

Lihat juga: Sandiaga Uno Pakai Istilah Emak-emak, Warganet Protes

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*