Amputasi penis

Amputasi Mr P, Kenali Periode Emas Untuk Cegah Komplikasi

Amputasi Penis adalah tindakan pemotongan penis secara menyeluruh atau sebagian.

Jakarta, K24Health IndonesiaAmputasi Mr P adalah tindakan pemotongan penis secara menyeluruh atau sebagian yang dipicu oleh berbagai hal seperti cedera atau penyakit tertentu. Tentu saja penis yang diamputasi harus mendapat penanganan khusus organ seksual tersebut dapat diselamatkan.

Dalam kegiatan bertema ‘Penatalaksanaan kasus Emergensi Urologi’ bagi para dokter umum, Dr. Jupiter Sibarani SP.U dari Siloam Hospitals Purwakarta mengatakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menyimpanan potongan organ lalu mencucinya dengan NaCI. Kemudian potongan penis yang sudah dicuci ditempatkan dalam kantong plastik segel untuk disimpan dalam wadah bersuhu dingin yang berisi es batu.

“Dan biasanya golden periode terjadi sekitar 6 hingga 10 jam. Jika kita menyimpannya dengan benar maka tindakan rekonstruksi organ tersebut dapat dilakukan,” ujar dokter spesialis Urologi Siloam Hospitals Purwakarta Dr. Jupiter Sibarani dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (12/3).

Lihat juga: Kencing Berbuih Tanda Penyakit Ginjal, Ini Penjelasan Dokter

Irwan Gandana, Direktur Siloam Hospitals Purwakarta mengatakan edukasi seputar kondisi emergensi urologi yang meliputi organ ginjal, saluran kemih, prostat, kandung kemih dan alat kelamin bagi para dokter umum diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dokter umum dalam penanganan awal pada pasien.

“Harapannya para dokter umum dapat mengetahui bagamana penatalaksanaan awal dari kasus kegawat daruratan urologi sebelum naik dirujuk ke dokter urologi di RS,” ujar Irwan.

Dalam seminar tersebut dibahas pula mengenai penanganan batu ginjal tanpa pembedahan yaitu dengan ESWL atau Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy. ESWL merupakan prosedur non-invasif, dimana tidak diperlukan adanya pembedahan untuk penanganan batu ginjal.

emergensi urologi di RS
Penatalaksanaan kasus emergensi urologi di RS Siloam Purwakarta.

“Prosedur ini banyak digunakan dan bersifat relatif lebih aman. Efek pemecahan batu memberikan hasil yang efektif pada 80-85% kasus,” imbuh Dr. Safendra Siregar Sp.U.

Dia menambahkan, ESWL bekerja melalui transmisi gelombang ultrasonik untuk menghancurkan batu melalui jaringan dan cairan tubuh. Sehingga batu menjadi fragmen-fragmen batu yang lebih kecil dan dapat keluar secara spontan melalui kencing.

Lihat juga: Diet Karbo Bisa Meningkatkan Resiko Penyakit Jantung

“Prosedur ini memerlukan waktu yang cukup singkat sekitar 30-60 menit, dan di Siloam Hospitals Purwakarta sudah menerima pasien BPJS Kesehatan untuk tindakan ESWL ini,” imbuh dia.

“Produser ESWL, sambungnya, memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan produser lain dalam penanganan kasus batu ginjal. Antara lain, tidak memerlukan pembedahan atau pemasukan alat ke dalam tubuh, rasa nyeri yang minimal, bahkan tidak memerlukan pembiusan.

“Selain itu, perawatannya singkat, bahkan tidak perlu rawat inap. Tindakan dapat diulang pada kasus batu residif dan dapat digunakan pada semua usia,” tandas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *